Siklus Kehidupan Bangsa Han – Korea Selatan

9 March 2019

(Museum Nasional Rakyat Korea)

#Sahabatluarbiasa bulan maret ini akan banyak cerita mengenai Korea, mengapa? Yaa, karena bulan ini PPPPTK TK dan PLB mengirimkan 20 orang guru TK dan 10 orang guru PLB ke Seoul National University of Education di Korea Selatan. Salah satunya cerita mengenai bangsa Han atau rakyat korea yang bersumber dari Museum Nasional Rakyat Korea. Menarik kan mengenal kehidupan bangsa lain. Kalau begitu kita simak yuk ceritanya disini.

Museum Rakyat Nasional Korea atau

National Folk Museum of Korea adalah sebuah museum yang terletak di halaman Istana Gyeongbokgung, Seoul. Museum ini mengkoleksi lebih dari 4.555 artefak dan alat-alat yang digunakan oleh masyarakat Korea pada masa lalu sampai sekarang. Berdiri tahun 1945, terbagi atas 3 area museum yaitu (1) Sejarah orang korea mulai dari jaman pra-sejarah sampai dengan akhir dinasti Joseon pada tahun 1910 (2) Gaya hidup orang Korea dan yang terakhir (3) Siklus kehidupan orang Korea dari lahir sampai dengan Kematian.

Sahabat, kali ini saya bercerita tentang siklus kehidupan orang Korea Selatan atau yang lebih dikenal dengan Bangsa Han. Sahabat tentu sudah mengenal pakaian tradisional Korea yang disebut Hanbok, kan. Han artinya bangsa Han dan Bok artinya pakaian.

Maka Hanbok berarti pakaian bangsa Han. Oke, kita lanjutkan ya, area ini diawali dengan Diorama kamar tidur bangsa Han jaman dahulu. Karena suhu udara di Korea sangat dingin, mereka menghangatkan ruangan dengan ONDOL, yaitu tungku yang diletakkan di dapur atau tembok luar rumah dan panas dari tungku tersebut disalurkan melalui rongga bawah rumah ke seluruh lantai rumah. Bangsa Han tidak tidur di tempat tidur tetapi di lantai dengan selimut tebal agar merasa hangat. Proses reproduksi digambarkan dengan Diorama kamar tidur.

Bangsa Han jaman dulu sangat mengagungkan anak laki-laki, maka posisi anak laki-laki dengan anak perempuan sangat berbeda. Bahkan keluarga akan sangat malu bila memiliki anak perempuan, maka mereka membuat tanda di depan rumah untuk mengabarkan berita kelahiran anak dengan memasang tali yang mengikat cabai merah dan potongan kayu. Berbeda dengan kelahiran anak laki-laki, sang ayah akan memasang tali yang diikat dengan daun pinus dan kain.

Pada masa itu adalah masa yang sulit bagi orangtua membesarkan anak, maka orang tua akan sangat bersyukur apabila anaknya bisa melewati 100 hari setelah kelahirannya (Baekil), karena mereka percaya sang bayi akan kuat dan bertahan hidup. Maka ini waktunya mereka mengenalkan bayi mereka pada tetangga. Dan keluarga akan menawarkan kue beras bergiliran kemudian memberikan seikat benang katun putih atau nasi. Benang katun putih dan beras menandakan umur panjang dan kekayaan. Kemudian ulang tahun pertama bagi sang bayi atau disebut Dol – Doljanji akan diselenggarakan besar-besaran dan mengundang kerabat dan tetangga untuk merayakannya. Perayaan ini untuk mendoakan agar panjang umur, sehat , keberuntungan dan kesuksesan untuk masa depannya. Adapun makanan yang disajikan disini ialah nasi yang disajikan dalam mangkuk, Sup rumput laut, sayuran hijau dan buah-buahan yang disiapkan untuk bayi. Kue beras putih merupakan bagian penting dalam perayaan ini.  Orang Korea percaya bahwa takdir bayi dapat dilihat berdasarkan pada item hidangan yang diambil oleh sang bayi. Untuk bayi laki-laki, item berupa beras, seikat benang putih, buku, kertas, busur dan anak panah ditempatkan di atas meja. Sedangkan untuk bayi perempuan, gunting, jarum, dan penggaris diletakkan diatas meja. Sistem perhitungan usia di Korea ini agak unik, sahabat. Saat pertama kali seorang anak lahir, ia akan secara otomatis berusia satu tahun. Itu karena orang Korea menganggap usia nol tahun bayi itu adalah saat sang bayi masih berada dalam kandungan ibunya.

Saat anak laki-laki sudah mulai besar, orangtua menyekolahkan anak-anaknya untuk belajar membaca dan menulis. Yang menarik adalah, sampai dengan tahun 1420 ternyata bangsa korea tidak memiliki huruf dan angka sendiri melainkan meminjam huruf dan angka bangsa cina. Atas jasa Raja Sejong yang agung, pada tahun 1420 bangsa Korea memiliki huruf dan angka sendiri yang disebut dengan Hangeul. Anak perempuan pada masa ini tidak bersekolah, hanya anak perempuan dari keluarga dengan status bangsawan atau tinggi saja yang bisa belajar melalui saudara laki-lakinya. Ketika anak sudah berusia 16 tahun, maka ini adalah perayaan besar bagi anak. Perayaan ulang tahun ke 16 merupakan proses menghantarkan anak ke usia dewasa.

Pada masa Dinasti Joseon, pernikahan pada usia 12 tahun sangat umum. Namun, rata-rata perempuan menikah pada usia 16 tahun. Pada keluarga-keluarga bangsawan bahkan rata-rata usia pengantin laki-laki bisa lebih muda beberapa tahun daripada pengantin wanita. Karena alasan

ekonomi, laki-laki dari keluarga tidak mampu menikah pada usia lebih tua, tapi tidak lebih dari usia 20 tahun. Yang menarik pada pipi pengantin perempuan diberi tanda bulat merah di dahi (jonji) dan pipi (gongi), dipercaya berfungsi mengusir roh jahat dan memberi kemurnian pada pengantin wanita. Selain itu, tanda merah di wajah pengantin juga melambangkan cinta terhadap pengantin wanita. Berbagai hidangan dan barang yang diletakkan diatas meja, memiliki arti dan perlambang untuk kehidupan pengantin di masa depan.

Hoegap merupakan perayaan ulang tahun bagi mereka yang genap berusia ke enam puluh. Biasanya anak-anak mengadakan perjamuan untuk orang tua mereka. Menurut orang Korea Hoegap berarti kembali ke ulang tahun pertama. Di Korea, usia dihitung sebagai bagian dari tahun hidup dan tidak tahun penuh berlalu sejak lahir, sehingga 60 dihitung sebagai 61. Perayaan  Hoegap bisa dibilang perayaan yang cukup  mahal karena biasanya beberapa tumpukan makanan diletakan diatas  meja sering disebutnya gobaesang atau mangsang. Beragam Buah segar, tumis ikan, daging sapi atau ikan kering, kue beras, dan makanan tradisional Korea menumpuk hingga 30-60 cm.

Coba tebak ini apa #sahabatluarbiasa? Ini adalah peti mati Raja Gongmin. Persemayaman jenazah dan upacara pemakaman berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Setelahnya, keluarga yang ditinggalkan seharusnya tetap berkabung selama tiga tahun. Di zaman kuno, seorang istri yang ditinggal suaminya akan membangun sebuah pondok kecil di dekat pemakaman dan tinggal di sana selama tiga tahun sebagai bagian dari pengabdian pada suaminya. Atau bila keluarga tersebut memiliki anak laki-laki, maka anak laki-laki tertua yang akan bersama orangtuanya selama tiga tahun.

Bagaimana #sahabatluarbiasa, menarik kan ceritanya. Bila ada kesempatan berkunjung ke Seoul – Korea Selatan, jangan lupa mampir ke sini ya. Selamat berakhir pekan.

Penulis : Yulie Feizal

Sumber foto : Koleksi Pribadi

Discite et Ora

Discite et Ora

Discite et Ora! Selama mengasah ilmu pengetahuan di luar negeri, nuansa perjalanan studi ini tetap harus diwarnai keseimbangan antara belajar

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp