Peran Ayah Dalam Optimalisasi Pendidikan Anak

21 February 2018

PERAN AYAH DALAM OPTIMALISASI PENDIDIKAN ANAK
Oleh: Dadang Supriatna*)

Peran ibu dalam pendidikan anak, sudah tidak ada yang meragukan lagi. Kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak. Perhatian dan kasih sayang tersebut akan menimbulkan rasa diterima pada diri anak sehingga menimbulkan sikap percaya diri pada anak. Namun, bagaimanakah peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya? Benarkah stigma yang mengatakan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah mutlak tanggung jawab ibu sementara ayah cukup memenuhi kebutuhan materi sang anak saja? Benarkah istilah yang berkembang di masyarakat “jika anak nakal maka salahkan ibunya tetapi jika anak tidak makan maka salahkan ayahnya?”

Dalam islam, peran dalam mengasuh dan mendidik anak bukanlah mutlak kewajiban seorang ibu. Justru ayahlah yang bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya sesuai dengan QS At-Tahrim ayat 6 “… jagalah dirimu dan keluargamu (istri dan anak-anakmu) dari siksa api neraka…”. Kita juga bisa melihat dalam Al-qur’an banyak surat atau ayat yang mengisahkan besarnya peran ayah dalam pendidikan anak. Beberapa contoh yang dapat kita renungkan adalah ketika Luqman mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak menyekutukan Alloh Swt di surat Luqman, juga bagaimana nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada ayahnya, nabi Yakub, bukan kepada ibunya yang menunjukkan interaksi ayah dan anak sehingga beliau mendapatkan curahan kasih sayang dari ayahnya yang membuat iri saudara-sudaranya yang lain dalam surat Yusuf, atau masih banyak lagi kisah dan sejarah yang menjelaskan pentingnya interaksi ayah dan anak dalam kehidupan sang anak.

Dalam penelitian-penelitian terakhir juga telah membuktikan bahwa seorang ayah memiliki peran penting dalam kesuksesan anak-anaknya. Peran ayah dapat mempengaruhi kehidupan sosial, prestasi di sekolah, dan pencapaian cita-cita anaknya. Kehadiran seorang ayah bagi anak akan menimbulkan rasa aman secara emosional, percaya diri dan keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ken R Canfield, pengarang buku The Seven Secret of Succes Fathers, setelah melakukan penelitian terhadap 4000 ayah sebagai sampelnya menyimpulkan bahwa ayah yang baik adalah ayah yang tahu bagaimana keadaan anaknya bila sang anak tengah menghadapi masalah dan tahu bagaimana harus meneguhkan hati anaknya.
Ada empat peran penting ayah dalam optimalisasi pendidikan anak sebagaimana disebutkan Hilmy Wahdi, Psi., konsultan SDM UI, yaitu:

a. Modelling
Peran ayah yang pertama adalah sebagai modelling atau tempat peniruan bagi anak. Proses peniruan itu terjadi karena anak bisa melihat sekelilingnya dan perkembangan kognitif yang semakin meningkat.

b. Menanamkan moral
Peran kedua seorang ayah adalah menanamkan moral. Mengenai peran ini ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa anak-anak yang tidak lagi memiliki ayah memiliki gangguan dalam segi pembentukan moralnya. Hal ini terjadi karena do dan don’t nya alias aturan dan larangannya hanya dari ibu, idealnya harus dari dua-duanya. Namun, anak yang memiliki ayah dan ibu pun bukan berarti bebas dari persoalan ini. Terutama bila ayah dan ibu tidak kompak sehingga aturan dan larangan ayah dan ibu sering berbeda yang pada akhirnya membuat anak bingung. Peran ini sangat penting dilakukan oleh ayah sebagaimana Luqman dan nabi Ibrahim mengajarkan ketauhidan dan moral sehingga dapat menentukan kepribadian anak.

c. Memberikan rasa aman menghadapi dunia
Peran ketiga seorang ayah adalah memberikan rasa aman dalam menghadapi dunia. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sejak kecil yatim, cenderung memiliki kecemasan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak yatim. Ini disebabkan karena anak-anak yatim melihat dunia sebagai satu beban yang sangat berat.

d. Pelindung keluarga
Peran keempat dari seorang ayah adalah sebagai pelindung keluarga. Tanpa ayah, ibu harus berjuang sendiri membesarkan anaknya sehingga akan sangat berpengaruh pada proses tumbuh kembang yang optimal. Tidak jarang kita lihat demi membantu ibu anak terpaksa bekerja sehingga terganggu pulalah proses belajarnya.
Untuk menjalankan keempat peran tersebut, maka kita perlu mengetahui tahapan pendidikan anak. Tahapan pendidikan anak dalam islam sebagaimana dicontohkan oleh Rosululloh SAW adalah sebagai berikut:

a. Usia 0 – 6 Tahun
Pada masa ini, Rasulullah s.a.w menyuruh kita untuk memanjakan, mengasihi dan menyayangi anak dengan kasih sayang yang tidak berbatas. Berikan mereka kasih sayang dengan bersikap adil terhadap setiap anak. Tidak boleh dipukul jika mereka melakukan kesalahan walaupun atas dasar untuk mendidik.

Sehingga, anak-anak akan lebih dekat dengan kita dan merasakan kita sebagai bagian dari dirinya saat besar, yang dapat dianggap sebagai teman yang terbaik. Anak-anak merasa aman dalam meniti usia kecil mereka karena mereka tahu kita orangtuanya selalu ada disisi mereka disetiap waktu.

b. Usia 7 – 14 tahun
Pada tahap ini kita mulai menanamkan nilai DISIPLIN dan TANGUNGJAWAB kepada anak-anak. Menurut hadits Abu Daud, “Perintahlah anak-anak kamu supaya mendirikan shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun dan asingkanlah tempat tidur di antara mereka (lelaki dan perempuan). Pukul itu pula bukanlah untuk menyiksa, tetapi hanya untuk mengingatkan mereka. Sehingga, anak-anak akan lebih bertanggungjawab pada setiap perintah terutama dalam mendirikan sholat. Inilah waktu terbaik bagi kita dalam memprogramkan kepribadian dan akhlak anak-anak mengikut acuan Islam.

c. Usia 15 – 21 tahun
Inilah fase remaja yang penuh sikap memberontak. Pada tahap ini, orang tua sebaiknya mendekati anak-anak dengan BERTEMAN dengan mereka. Banyakkan berdialog dengan mereka tentang masalah yang mereka hadapi. Seandainya ada sesuatu yang tidak setuju dengan tindakan mereka janganlah memarahi mereka di depan saudaranya tapi gunakanlah cara diplomasi yang baik walaupun kita adalah orangtuanya. Sehingga, tidak ada orang ketiga atau ‘asing’ akan hadir dalam hidup mereka sebagai tempat curhat dan pendengar masalah mereka. Mereka tidak akan terpengaruh untuk keluar rumah untuk mencari kesenangan lain karena merasakan semua kebahagian dan kesenangan telah ada di rumah bersama keluarga.

d. Usia 22 tahun ke atas
Fase ini adalah masa orang tua untuk memberikan KEPERCAYAAN penuh kepada anak-anak dengan memberi KEBEBASAN dalam membuat keputusan mereka sendiri. Orang tua hanya perlu memantau, menasehati dengan diiringi doa agar setiap tindakan yang mereka ambil adalah benar. Orang tua jangan lelah untuk menasihati mereka, karena kalimat nasihat yang diucap sebanyak 200 kali atau lebih terhadap anak-anak mampu membentuk tingkah laku yang baik seperti yang kita harapkan.

Dari penjelasan di atas, jelaslah pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak. Waktu seorang ayah yang seringkali terbatas untuk keluarga mau tidak mau harus disiasati dengan strategi peningkatan kualitas pertemuan. Istilah “Kualitas lebih penting daripada kuantitas” bagi ayah menjadi sangat berlaku. Komunikasi dengan anak juga menjadi sangat penting dilakukan oleh ayah kapanpun dan dimanapun ayah berada sehingga anak akan semakin merasa dekat dengan anaknya. Dari hasil penelitian, kedekatan anak dengan paling tidak satu orang tua akan menjadi sumber positif baginya. Anak yang di didik langsung oleh ayah prestasi akademiknya meningkat. Namun, baik ayah atau ibu mempunyai peran yang sama besarnya dalam pendidikan anak karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak dan ayah adalah kepala madrasahnya sehingga tugas kepala madrasah adalah menentukan visi misi pendidikan anaknya, mengontrol serta mengevaluasi perkembangan anaknya. Semoga kita menjadi orang tua yang baik yang dapat menghantarkan kesuksesan anak-anak kita tidak saja di dunia tetapi yang lebih penting kesuksesan di akhirat aamiin.

Daftar Pustaka:
1. Alqur’an dan terjemahnya
2. Anita Lusiya Dewi, Peran Ayah dalam pembentukan Karakter anak. Diunduh dari https://hijapedia.com/peran-ayah-dalam-pembentukan-karakter-anak/ pada tanggal 18 Juni 2015.
3. Bukan Sembarang ayah. Diunduh dari http://fahima.org/ pada tanggal 18 Juni 2015.
4. Dadang Dimyati, SS. Pendidikan Anak dalam Islam. Diunduh dari http://almasoem.sch.id/pendidikan-anak-dalam-islam/ pada tanggal 18 Juni 2015.

Berguru Ke Negeri Jiran

Malaysia merupakan negara yang letak teritorialnya paling dekat dengan Indonesia di antara negara-negara lain di Asia Tenggara. Malaysia bahkan berbagi

Sekolah Inklusi Yang Siap untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Sekolah Inklusi Yang Siap untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Anak-anak dengan kebutuhan khusus itu berbeda dengan anak – anak normal. Jika anak normal bisa dengan mudah memahami maksud orang

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp