Mengembangkan Literasi bagi Siswa MDVI

16 September 2018

Literasi merupakan salah satu komponen penting kehidupan seorang individu. Literasi sangat berguna untuk bertukar informasi dan ide, berinteraksi dan menjalin hubungan sosial.

Pandangan lama tentang literasi hanya dibatasi pada “membaca” dan “menulis”. Hal ini kurang sesuai apabila diaplikasikan pada siswa-siswa dengan disabilittas khususnya MDVI yang mengalami kesulitan dalam membaca & menulis secara konvensional. Definisi terbaru tentang literasi menyebutkan bahwa literasi merupakan kemampuan menggunakan bahasa lisan dan tulisan untuk membaca, menulis, berbicara dan mendengar. Literasi merupakan proses terintegrasi yang berkembang secara bertahap sejak lahir dan terbentuk melalui pengalaman belajar dan berhubungan dengan perkembangan konsep (Wright, 1997).

Anak dengan MDVI mengalami banyak hambatan dalam perkembangan literasi dikarenakan terbatasnya pengindraan penglihatan dan pendengaran yang merupakan sumber utama dalam memperoleh informasi. Mereka tidak dapat melihat

Selain itu mereka kehilangan banyak kesempatan dari incidental learning yang dimulai dari usia diniContoh, ketika masih kecil, anak tidak dapat melihat bagaimana ayahnya membaca/melihat koran atau ibunya membaca/menulis surat. Sejalan dengan bertambahnya usia, hal ini dapat mengakibatkan anak tidak termotivasi untuk melakukan hal yang sama (mengimitasi) apa yang orang sekitarnya lakukan pada bahan bacaan/informasi.

Anak-anak dengan disabilitas khususnya MDVI cenderung egosentris, artinya mereka akan belajar dengan baik apabila selalu berasal dari diri mereka. Contoh, anak akan belajar efektif tentang laut apabila dia pernah pergi langsung ke laut. Dia bisa mendengar, membaca, berbicara dan menulis cerita tentang laut berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami, seperti di laut ada pasir, air laut rasa nya asin, angin di laut cenderung kencang, dan lain sebagainya.

Contoh lain, anak akan lebih mudah membaca/menulis/mendengar/berbicaa tentang berbelanja atau toko atau supermarket apabila dia pernah melakukan atau pernah pergi ke supermarket. Anak akan lebih mudah mengasosiasikan pengalaman yang telah dimiliki dengan konten informasi yang berkaitan dengan berbelanja/ toko/supermarket.

Pada anak MDVI yang kondisinya berat, kemampuan literasi mereka mungkin tidak pada konteks literasi “formal”, tetapi dapat berupa kemampuan membaca jadwal kegiatan harian (melalui objek atau simbol gambar) atau menunjuk gambar untuk menyatakan sebuah keinginan.

Berikut beberapa langkah praktis dalam mengembangkan literasi pada anak MDVI:

1. Apabila ingin perkenalkan huruf, perlu disertai dengan objek / gambar supaya anak ada pemahaman yang utuh, tidak cuma hapal huruf/katanya saja.

contoh gambar diatas untuk siswa yang masih memiliki sisa penglihatan

2. Memberi nama/melabel sebanyak mungkin pada orang, objek, kegiatan.

3. Menggunakan topik yang dekat / dialami langsung oleh anak. contoh sebelum pergi ke toko untuk membeli sesuatu, anak membaca daftar makanan yang harus dibeli (disertai dengan gambar). Untuk anak yang kemampuannya lbh baik, mereka diminta membaca daftar belanjaan berupa huruf awas atau braille.

hal ini dapat membiasakan anak untuk terekspos dengan informasi baik tulisan maupun lisan.

4. Setelah selesai sebuah kegiatan tertentu, anak dapat diajak untuk membuat cerita/menjawab pertanyaan tentang kegiatan tersebut. Pemaparan cerita dapat dilakukan melalui menggambar (bagi low vision) atau menulis (braille/awas), tanya jawab (bahasa isyarat), atau menunjuk gambar. Contoh dibawah ini adalah hasil ketikan anak setelah dia melakukan kegiatan volunteer di sebuah tempat penampungan anjing dna kucing.

5. Membacanya diusahakan yang fungsional, contoh; membaca resep atau membaca urutan kegiatan; contoh toilet training   atau tugas tertentu (membuat kartu ucapan):

6. Modifikasi lingkungan sekitar dengan ditambahkan kata untuk benda / ruangan tertentu;

Modifikasi ini sangat berguna dalam membantu anak mengenal langsung dan mengingat label/nama objek yang dia temui sehari-hari.

7. Bisa buat modifikasi buku cerita

Modifikasi dapat berupa menambahkan objek / gambar tertentu pada buku, memperbesar ukuran huruf, mempersingkat jumlah kata dalam sebuah kalimat, dan mengganti kata/kalimat yang dianggap sulit bagi anak.

8. Buat kotak cerita (ada buku cerita ditambah dengan beberapa objek yang berkaitan di dalam cerita tersebut)

Kotak cerita akan sangat menarik bagi anak karena dia dapat memegang/merasakan langsung objek-objek yang ada pada cerita.

Secara garis besar, kita harus terus berusaha berpikir kreatif dan meningggalkan pola-pola konvensional dalam mengembangkan literasi anak (misal anak harus duduk dan membaca atau menulis). Perlu dipikirkan bagaimana membaca itu berhubungan langsung dengan kehidupan anak dan mengenalkan sebanyak mungkin literasi pada lingkungan anak. Lalu lihat tahap perkembangannya, apakah anak masih ditahap konkrit, semi konkrit atau sudah mulai ke abstrak.

Penulis : Dede Supriyanto/Widyaiswara Bidang PLB – PPPPTK TK dan PLB

Miyeokguk, makanan tradisional khas Korea

Ada hal yang menarik yang saya temui selama masa kunjungan kami seminggu ini ke Korea. Nyaris di setiap acara makan,

Mengembangkan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus dalam Belajar (bagian 1)

Dalam mendidik anak dengan berkebutuhan khusus, guru perlu memperhatikan bagaimana mengembangkan kemandirian anak dalam belajar dan memperoleh pengalaman baru. Berikut

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp