IMPLEMENTASI METODE FERNALD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK DISLEKSIA

7 November 2018

ABSTRAK

Keterampilan membaca bagi anak Sekolah Dasar merupakan kompetensi yang sangat diperlukan, karena melalui keterampilan membaca akan membuka jendela bagi anak untuk mempelajari berbagai pengetahuan. Anak kesulitan belajar membaca (disleksia) berhak mendapatkan pelayanan yang berkualitas dalam proses pembelajarannya. Permasalahan yang dihadapi anak disleksia memberikan beban bagi individu yang bersangkutan dan juga guru yang memberikan pembelajaran di kelas. Secara umum penderita disleksia mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka dapat menangkap kata dengan indra pendengaran dan penglihatan tapi karena kelainan saraf pada otak sehingga kesulitan menuliskan huruf. Pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran hasil implementasi metode Fernald dalam peningkatan keterampilan membaca yang sesuai dengan karakteristik anak disleksia yang berlandaskan pada konsep-konsep pembelajaran bagi anak disleksia, kondisi empiris di lapangan, dan upaya-upaya pembelajaran yang sudah dilakukan guru/pembimbing. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa subjek penelitian dapat membaca kata tidak melalui huruf atau suku kata terlebih dahulu, melainkan dari sebuah kata yang diuraikan menjadi suku kata dan huruf. Mereka dapat membunyikan huruf dan mengeja suku kata dengan benar dari kata yang dipelajari. Selain itu, kata yang dipilih anak dalam pembelajaran sangat berpengaruh terhadap proses belajar yang aktif dan menyenangkan. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap pengalaman berbahasa anak. Anak akan mengingat kosakata yang dipelajari jika dikaitkan dengan pengalaman yang dialaminya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah anak mampu mengoptimalkan panca indera mereka melalui metode Fernald.

KATA KUNCI : Metode Fernald, Anak Disleksia

 

PENDAHULUAN

Pada saat anak tumbuh dan berkembang di usia Sekolah Dasar dan mulai belajar “lebih serius”  dibandingkan saat dia bermain di Taman Kanak Kanak, beberapa anak menunjukkan masalah yang bermakna dalam mempelajari hal-hal baru yang sifatnya akademis seperti saat belajar membaca, menulis, menyalin, memahami bacaan yang panjang, bahkan sebagian dari mereka juga menunjukkan kesulitan dalam operasi perhitungan matematika yang sederhana dan soal cerita matematika. Hal ini seringkali membuat orang tua dan guru menjadi “bingung” karena anak-anak tersebut telah diyakini dengan pemeriksaan psikometrik mempunyai tingkat kecerdasan yang normal, bahkan tidak jarang sebagian dari mereka merupakan anak yang sangat cerdas dan mempunyai tingkat kognisi jauh di atas rata-rata.

Keterampilan membaca bagi anak Sekolah Dasar merupakan kompetensi yang sangat diperlukan, karena melalui keterampilan membaca akan membuka jendela bagi anak untuk mempelajari berbagai pengetahuan. Pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud telah menjamin pendidikan anak luar biasa, antara lain melalui Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Berdasarkan Permendiknas ini, anak kesulitan belajar membaca (disleksia) berhak mendapatkan pelayanan yang berkualitas dalam proses pembelajarannya.

Permasalahan yang dihadapi anak disleksia memberikan beban bagi individu yang bersangkutan dan juga guru yang memberikan pembelajaran di kelas. Secara umum penderita disleksia mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka dapat menangkap kata dengan indra pendengaran dan penglihatan tapi karena kelainan saraf pada otak sehingga kesulitan menuliskan huruf. Gangguan ini terjadi pada 5%-10% seluruh anak di dunia. Meskipun mengalami kesulitan menulis huruf dan tentunya kesulitan belajar, bukan berarti disleksia merupakan ketidakmampuan intelektual.

Selain mempengaruhi kemampuan menyusun kalimat, membaca dan menulis, disleksia juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya. Sedangkan perkembangan kemampuan standar tetap normal, seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan daya sensorik pada indera perasa. Hal yang menarik, disleksia ternyata tidak hanya menyangkut kemampuan baca dan tulis, melainkan bisa juga berupa gangguan dalam mendengarkan atau mengikuti petunjuk, bisa pula dalam kemampuan bahasa ekspresif atau reseptif, kemampuan membaca rentetan angka, kemampuan mengingat, kemampuan dalam mempelajari matematika atau berhitung, kemampuan bernyanyi, memahami irama musik, dll. Gangguan disleksia ini adakalanya diikuti dengan gangguan penyerta lain seperti mengompol sampai usia empat tahun ke atas, nakal dan suka mengganggu teman serta membuat onar di kelas. Entah apa alasannya, tetapi penderita disleksia 90%nya adalah laki-laki.

Untuk memberikan solusi datri permasalahan di atas peneliti melakukan penelitian dengan mengimplementasikan metode Fernald di sekolah Inklusif. Selain itu penelitian ini dalam rangka membantu menyediakan sumber belajar bagi orang tua, guru, atau praktisi dalam membimbing anak kesulitan belajar membaca (disleksia).

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di sekolah inklusif SDN Gegerkalong 2 Kota Bandung.

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa anak usia Sekolah Dasar (SD) dengan diagnosa kesulitan belajar membaca (hasil diagnosis dari tenaga ahli di Indigrow) pada satuan pendidikan sekolah dasar inklusif. Penentuan subyek penelitian dilakukan secara purpossive sampling, sampel diambil untuk dijadikan objek penelitian adalah Sekolah Dasar Negeri Gegerkalong 2 Kota Bandung. Adapun kriteria siswa yang dijadikan objek penelitian adalah siswa kelas II jenjang Sekolah Dasar.

Penentuan subyek penelitian dilakukan secara purpossive sampling, yaitu pengambilan sampel sebagai sumber informasi didasarkan kepada adanya pertimbangan tujuan atau maksud tertentu, karena peneliti menganggap sampel tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitian yang akan dilakukannya. Maksudnya pengambilan sampel secara sengaja, peneliti menentukan sendiri sampel yang diambil, dan sampel diambil untuk dijadikan objek penelitian adalah Sekolah Dasar Negeri Kota Bandung yang merupakan katagori sekolah inklusif.

  1. Langkah-langkah Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan suatu pengembangan pembelajaran bagi siswa  Sekolah Dasar inklusif terhadap siswa disleksia. Dalam pelaksanaannya penelitian ini mengimplementasikan metode Fernald yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca. Tentunya hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan dampak bagi anak dalam kemampuan membaca yang sesuai dengan kebutuhan siswa  jenjang Sekolah Dasar.

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif berdasarkan data-data yang diolah secara kuantitatif, yakni untuk mengungkap data-data lapangan yang diperlukan untuk mengetahui dampak metode Fernald bagi siswa disleksia  di Sekolah Dasar. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan dapat dilihat dari gambar berikut ini.

ahyar 1

  1. Metode Fernald

Menurut  Munawir Yusuf,Sunardi & Mulyono  Abdurrahman ( 2003 : 169) empat tahapan Metode Fernald sebagai berikut:

Tahap 1: Anak memilih kata yang akan dipelajarinya,guru menuliskannya besar-besar. Anak kemudian menelusuri kata dengan jarinya. Sambil menelusuri, anak mengucapkan kata itu keras-keras. Disamping itu, anak juga melihat kata dan mendengarkan suaranya sendiri saat membaca. Jika anak membuat kesalahan, ia harus mengulanginya dari depan lagi. Jika sudah benar, kata itu akan disimpan dalam bank kata anak. Anak dapat membuat cerita dari kata yang sudah dikuasainya.

Tahap 2: Anak tidak lagi harus menelusuri kata. Ia belajar dengan melihat kata yang ditulis guru, mengucapkanya, dan menyalinnya. Anak terus didorong menyusun cerita dan mempertahankan bank kata.

 

Tahap 3: Guru tidak lagi harus menulis kata. Anak belajar membaca dari kata-kata atau kalimat yang sudah dicetak. Ia melihat kata, mengucapkannya, dan menyalinnya. Guru harus memantau apakah semua kata masih diingatnya.

Tahap 4: Anak sudah mampu mengenal kata-kata baru dengan membandingkannya dengan kata-kata yang sudah dipelajarinya. Anak dapat dimotivasi untuk memperluas materi bacaan. Dengan demikian pembelajaran dengan metode Fernald yaitu dengan anak dilatih membaca kata secara utuh yang dipilih anak dari cerita yang dibuat oleh anak sendiri. dengan demikian tidak ada kegiatan memperkenalkan nama huruf atau bunyi secara individual.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah dibahas berdasarkan analisis deskriptif maka telah diperoleh beberapa temuan. Temuan-temuan ini terdiri dari: Hasil perlakuan pertama, hasil perlakuan kedua, hasil perlakuan ketiga.

  1. Hasil Perlakuan Pertama

Berdasarkan perlakuan pertama yang dilaksanakan peneliti, KR dan RS dapat mengikuti perlakuan pertama ini dengan cukup baik. Berikut adalah hasil tes pertama mengenai pelafalan kata yang mengandung satu suku kata dan dua suku kata (suku kata pertama terdiri dari satu fonem).

ahyar 2

KR mampu membaca 5 kata dari 10 kata yang diteskan. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /gas/, /gir/, /pak/, /pel/ dan /rem/. KR masih mengeja kata secara tidak tepat, sehingga tidak semua kata dapat dilafalkan dengan benar. Indikator pencapaian pada kemampuan ini termasuk ke dalam kategori sedang.

ahyar 3

Berdasarkan data di atas KR dan RS dapat menggunakan dengan cukup baik visual, audio, kinestetik dan taktil yang mereka miliki walaupun belum secara maksimal. Selain itu, KR dan RS memiliki motivasi tambahan karena adanya reward dan itu cukup berguna untuk memicu dan mempertahankan motivasi anak.

 

  1. Hasil Perlakuan Kedua

Berdasarkan hasil perlakuan kedua yang dilaksanakan peneliti, KR dan RS dapat mengikuti perlakuan kedua ini dengan lebih baik dari perlakuan pertama. Berikut adalah hasil tes kedua mengenai pelafalan kata yang mengandung dua suku kata dan tiga suku kata yang berbeda.

ahyar 4ahyar 5

Selain membimbing, peneliti juga mencoba untuk mengamati perkembangan membaca anak dan proses pembelajaran yang berlangsung selama tindakan. Perkembangan membaca KR dan RS dapat terlihat dari penyelesaian sedikit demi sedikit masalah yang terdapat pada pelaksanaan perlakuan pertama. KR sudah dapat membedakan huruf /d/ dan /b/ yang menjadi masalahnya selama ini. Selain itu, KR juga sudah mulai dapat membaca kata yang terdapat deretan vokal di dalamnya. KR juga sudah bisa mengatasi kesulitan dalam membaca kata yang diakhiri suku kata tertutup. RS belajar dengan baik dalam mengatasi kesulitannya dalam membaca kata dengan cara mengeja yang salah sehingga RS tidak dapat membaca kata tersebut dengan benar. RS memiliki kemajuan yang cukup berarti ketika membaca tiga suku kata. Sebelumnya RS kesulitan dalam membaca tiga suku kata karena masalah ejaan, namun sekarang RS sudah bisa membaca tiga suku kata yang sederhana karena cara mengeja dari RS sudah membaik. Perkembangan lain dari proses pembelajaran membaca KR dan RS dapat terlihat dari adanya peningkatan jumlah kata yang dibaca oleh keduanya dari jumlah kata yang dibaca pada tahap diagnosis yang dilakukan guru kelas II.

Berdasarkan catatan lapangan, KR masih belum mampu dalam membaca kata yang di dalamnya terdapat deret konsonan. Selain itu, KR masih perlu dilatih dalam membaca kata yang mulai terdapat kerumitan dalam membacanya, seperti kata /setrika/ dan /gerilya/. RS masih kesulitan dalam membaca kata yang terdapat deret vokal dan konsonan. Selain itu, RS masih sulit dalam membaca kata dengan suku kata tertutup. RS sudah mulai mampu membaca tiga suku kata sederhana, hanya masih dibutuhkan bimbingan lebih agar RS dapat membaca lebih cepat dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Konsentrasi dari KR dan RS dalam perlakuan kedua ini sudah lebih baik, selain mereka memiliki keinginan untuk belajar, suasana tempat juga cukup berpengaruh.

Pelaksanaan perlakuan setelah anak-anak pulang sekolah menciptakan ruang kelas  cukup sepi, tenang, dan sejuk sehingga cocok untuk berkonsentrasi dan fokus dalam belajar. Anak-anak juga mulai serius mengikuti pembelajaran, hal tersebut terlihat dari tidak asal menebak kata dan mulai benar-benar berpikir untuk mencari kata yang sesuai, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama ataupun kesalahan yang banyak untuk mendapatkan kata yang dimaksud.

  1. Hasil Perlakuan Ketiga

Berdasarkan perlakuan ketiga yang dilaksanakan peneliti, KR dan RS dapat mengikuti perlakuan ketiga ini dengan baik. KR dan RS membutuhkan pembelajaran ekstra karena sebelumnya penguasaan membaca untuk kata berimbuhan dan kata yang mengandung /ng/ dan /ny/ tidak mampu dikuasai keduanya. Berikut adalah hasil tes pertama mengenai pelafalan kata yang mengandung imbuhan dan kata yang menngandung huruf /ng/ dan /ny/.

ahyar 6

Berdasarkan tabel tersebut, KR mampu membaca dengan benar 8 kata dari 10 kata yang diteskan. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /talikan/. KR menghilangkan huruf /l/ ketika membacanya, sehingga KR masih harus dibimbing agar lebih fokus supaya tidak ada kata yang hilang atau ditambahkan ketika membaca. Secara keseluruhan KR sudah mampu membaca dengan baik kata-kata berimbuhan ini karena dia mampu membaca dengan benar hampir semua kata. KR mengalami peningkatan enam kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis yang dilakukan guru kelas II. Indikator pencapaian pada kemampuan ini termasuk ke dalam kategori baik.

RS mampu membaca 9 kata dari 10 kata yang diteskan. Kata yang tidak mampu dibaca RS adalah kata /sehelai/ dan kata /pembuat/. NS menghilangkan huruf /l/ yang ada dalam kata, sehingga kata tersebut dibaca [seheai] dan [pebuat]. Masalah ini sama seperti yang dialami KR, RS harus lebih fokus ketika membaca kata tersebut sehingga tidak ada kata yang hilang ketika membacanya. Kesalahan tersebut disebabkan juga karena RS belum mampu menguasai dengan baik cara membaca kata yang di dalamnya terdapat deret konsonan. Peneliti angkat jempol untuk RS yang mau belajar sehingga mampu membaca dengan baik kata-kata berimbuhan yang menjadi masalah sebelumnya. RS mengalami peningkatan sebanyak 7 kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis yang dilakukan guru kelas II. Indikator pencapaian pada kemampuan ini termasuk ke dalam kategori sangat baik.

ahyar 7

Berdasarkan tabel tersebut, KR mampu membaca dengan benar 7 kata dari 10 kata yang diteskan. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /anggur/, /anggun/, dan /kenyang/. Ketiga kata yang tidak mampu dibaca KR, karena KR masih belum terbiasa dan mempunyai kesadaran yang tinggi dalam membaca huruf /ny/ dan /ng/. KR mengalami peningkatan 7 kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis yang telah dilakukan guru kelas II. Pada tahap diagnosis, KR tidak mampu membaca semua kata yang mengandung huruf /ng/ dan /ny/. Setelah melaksanakan perlakuan, KR mampu membaca 7 kata dari 10 kata yang diteskan. Indikator pencapaian pada kemampuan ini termasuk ke dalam kategori baik.

RS mampu membaca 6 kata dari 10 kata yang diteskan. Kata yang tidak mampu dibaca RS adalah kata /anggur/, /anggun/, /kenyang/, dan /nyanyi/. Keempat kata yang tidak mampu dibaca karena RS masih belum terbiasa dan mempunyai kesadaran yang tinggi dalam membaca huruf /ny/ dan /ng/. RS mengalami peningkatan enam kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Pada tahap diagnosis, RS tidak mampu membaca semua kata yang mengandung huruf /ng/ dan /ny/. Setelah melaksanakan perlakuan, RS mampu membaca 6 dari 10 kata yang diteskan. Indikator pencapaian pada kemampuan ini termasuk ke dalam kategori sedang.

4.Hasil Perlakuan Metode Fernald Berbasis Multisensori

Dari hasil perlakuan pembelajaran untuk anak yang mengalami kesulitan membaca dapat dilihat dari data berikut ini. Dari data tersebut dapat terlihat perbedaan yang signkfikan kemampuan anak dalam membaca sebelum dan sesudah perlakuan. Atas dasar itu berikut ini tampilan data yang tertera pada tabel 7, dapat terlihat data saat anak sebelum dan sesudah perlakuan yang menggunakan metode Fernald.

ahyar 8

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui peningkatan yang dialami KR dan RS setelah tindakan dilakukan. Setiap kategori kata mengalami peningkatan yang cukup berarti.Pada kategori kata yang mengandung satu suku kata, KR mengalami peningkatan dua kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, sedangkan RS mengalami peningkatan empat kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Pada kategori ini, KR masih belum mampu membedakan huruf /d/ dan /b/ dengan baik dan RS masih mengeja kata secara tidak tepat, sehingga tidak semua kata dapat dilafalkan dengan benar.

Pada kategori kata yang mengandung dua suku kata (Suku kata pertama terdiri dari satu fonem), KR mengalami peningkatan dua kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, sedangkan RS mengalami peningkatan tiga kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Kata yang tidak mampu dibaca KR  adalah kata /uap/ dan /ade/, dengan kata lain, KR masih belum mampu membedakan huruf /d/ dan /b/ dengan baik. Selain itu, KR masih kesulitan membaca kata yang terdapat deret konsonan di dalamnya. RS masih dirasa kesulitan dalam membaca kata yang di dalamnya terdapat deretan vokal dan kata yang diakhiri suku kata tertutup.

Pada kategori kata yang mengandung dua suku kata yang berbeda, KR mengalami peningkatan tiga kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, sedangkan RS mengalami peningkatan enam kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /argo/, dengan kata lain, KR masih kesulitan dalam membaca kata yang terdapat deret konsonan di dalamnya. Pada perlakuan kedua ini, KR sudah mampu membedakan huruf /d/ dan /b/, serta mampu membaca kata yang terdapat deret vokalnya. RS masih kesulitan dlaam membaca kata yang di dalamnya terdapat deret konsonan dan vokal. Namun, RS dapat membaca beberapa kata yang di dalam kata tersebut terdapat deret vokalnya walaupun masih membutuhkan waktu dan bimbingan dalam membacanya.

Pada kategori kata yang mengandung tiga suku kata yang berbeda, KR mengalami peningkatan lima kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, sedangkan RS mengalami peningkatan enam kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /gergaji/ dan /setrika/. RS belum mampu membaca kata-kata yang lebih kompleks yang terdapat deret konsonan dalam kata tersebut. RS masih dirasa kesulitan dalam membaca kata yang di dalamnya terdapat deretan konsonan dan kata yang diakhiri suku kata tertutup. RS sudah dapat membaca dengan baik kata yang mengandung tiga suku kata, karena RS sudah lebih baik dalam cara mengejanya. RS dibiasakan untuk tidak mengeja kata huruf per huruf tetapi mengeja dengan benar suku kata. RS belajar mengeja suku kata dari sebuah kata, kata yang dijadikan suku kata, bukan suku kata yang dijadikan kata.

Pada kategori kata yang mengandung imbuhan, KR mengalami peningkatan tujuh kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, demikian pula RS mengalami peningkatan tujuh kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /ikatkan/. KR menghilangkan huruf /k/ ketika membacanya, sehingga KR masih harus dibimbing agar lebih fokus supaya tidak ada kata yang hilang atau ditambahkan ketika membaca. Secara keseluruhan KR sudah mampu membaca dengan baik kata-kata berimbuhan ini karena dia mampu membaca dengan benar hampir semua kata. Kata yang tidak mampu dibaca RS adalah kata /sehelai/ dan kata /pembuat/. RS menghilangkan huruf /m/ yang ada dalam kata, sehingga kata tersebut dibaca [seheai] dan [pebuat]. Masalah ini sama seperti yang dialami KR, RS harus lebih fokus ketika membaca kata tersebut sehingga tidak ada kata yang hilang ketika membacanya. Kesalahan tersebut disebabkan juga karena RS belum mampu menguasai dengan baik cara membaca kata yang di dalamnya terdapat deret konsonan. Peneliti memberikan reward untuk RS yang mau belajar sehingga mampu membaca dengan baik kata-kata berimbuhan yang menjadi masalah sebelumnya.

Pada kategori kata yang mengandung huruf /ng/ dan /ny/, KR mengalami peningkatan enam kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis, sedangkan RS mengalami peningkatan tujuh kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Kata yang tidak mampu dibaca KR adalah kata /anggur/, /anggun/, dan /kenyang/, sedangkan RS mengalami peningkatan tujuh kata dibandingkan tes awal pada tahap diagnosis. Ketiga kata yang tidak mampu dibaca KR, karena KR masih belum terbiasa dan mempunyai kesadaran yang tinggi dalam membaca huruf /ny/ dan /ng/. Kata yang tidak mampu dibaca RS adalah kata /anggur/ /anggun/ /kenyang/ dan /nyanyi/. Keempat kata yang tidak mampu dibaca RS, karena RS masih belum terbiasa dan mempunyai kesadaran yang tinggi dalam membaca huruf /ny/ dan /ng/.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan temuan di SD Inklusi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Rancangan perlakuan metode Fernald dalam menangani kasus anak yang berkesulitan membaca permulaan dibagi ke dalam tiga tahapan perlakuan. Tahapan perlakuan tersebut mengacu pada tahap-tahap pembelajaran metode Fernald. Rancangan tahapan pertama didasarkan pada hasil identifikasi masalah dan diagnosis yang telah dilakukan guru di kelas II. Rancangan tahapan kedua dan ketiga, selain mengacu pada tahapan pembelajaran metode Fernald juga didasarkan pada hasil evaluasi tahap-tahap sebelumnya.
  1. Setelah melakukan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa KR dan RS dapat membaca kata tidak melalui huruf atau suku kata terlebih dahulu, melainkan dari sebuah kata yang diuraikan menjadi suku kata dan huruf. Mereka dapat membunyikan huruf dan mengeja suku kata dengan benar dari kata yang dipelajari. Selain itu, kata yang dipilih anak dalam pembelajaran sangat berpengaruh terhadap proses belajar yang aktif dan menyenangkan. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap pengalaman berbahasa anak. Anak akan mengingat kosakata yang dipelajari jika dikaitkan dengan pengalaman yang dialaminya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah anak mampu mengoptimalkan panca indera mereka melalui metode Fernald.
  2. Berdasarkan hasil identifikasi kasus dan identifikasi masalah, terdapat dua anak yang berkesulitan membaca permulaan. Anak-anak tersebut adalah KR dan RS yang berdasarkan hasil tes kemampuan awal membaca mereka berada pada tingkat frustasi, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Hal tersebut terlihat dari 30 kata yang diteskan, KR hanya mampu membaca 12 kata dengan benar sedangkan RS hanya mampu membaca 14 kata dengan benar. KR dan RS memiliki kesulitan membaca yang hampir sama sehingga perlakuan yang diberikan tidak jauh berbeda. KR dan RS masih kesulitan dalam mengenal dan membunyikan beberapa huruf yang bentuk dan bunyinya hampir sama, serta huruf-huruf yang jarang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, KR dan RS juga masih kesulitan dalam membaca kata yang terdiri dari satu, dua, dan tiga suku kata yang berbeda, kata yang berimbuhan, mengandung huruf /ng/ dan /ny/.

Saran

  1. Peneliti menyarankan kepada peneliti berikutnya agar melakukan penelitian dengan metode selain Fernald untuk anak yang mengalami kesulitan membaca awal (disleksia).
  2. Peneliti menyarankan penelitian selanjutnya dapat membahas tentang penanganan terhadap faktor neurologis yang berpengaruh bagi anak yang berkesulitan belajar membaca permulaan. Hal ini karena kesulitan belajar membaca permulaan berkaitan dengan faktor neurologis yang ada pada dirinya.
  3. Secara khusus bagi guru SD yang mengajar di kelas awal atau guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam menangani anak yang berkesulitan belajar membaca permulaan sebaiknya dapat memaksimalkan berbagai indera yang dimiliki anak sebagai salah satu usaha dalam meningkatkan kemampuan membaca anak yang berkesulitan membaca permulaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anakku , (2008), Jenis-jenis Disleksia,  edisi 02/IV/, Jakarta.

Arends, S., (1997). Classroom Instruction and Management. New York : Mc. Graw Hill.

Arthur L. Costa (eds), (1985). Development Minds. Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Bloom, B.S, (1979) Taxonomy Of Education Objektives, The Classification of educational, Hand book I Cognitive Domain, USA : Long Man Inc.

Bruce, J. & Weil,M, (1980). Models of Teaching. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Borg, W.R. & Gall, M.D. (1989). Educational Research. New York: Longman.

Dedeh Sutarsih, 1988, Beberapa Jenis Penelitian Yang  Dilaksanakan  Oleh Guru di Sekolah Dasar, Bandung : Bandung Raya

Depdiknas., (2006), kurikulum tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Emerson J. & Babtie P. (2010). The Dyscalculia Assessment. New York: Continuum.

Hamalik. (1991). Media Pendidikan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Hannell, G.(2005).Dyscalculia, Action Plan for Successful Learning in Mathematics. London: David Fulton

Heinich, R, M. Molinda and J.D. Russel. (1996). Instructional Media and Tecnologies for Learning. New York: Prentice Hall.

Hermawan, Herry, Asep, dkk, 1993, Pengembangan Kurikulum, Jakarta  : Universitas  Terbuka.

Reid Gavin,(2007), Dyslexis Continuum, London: International Publishing Group

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0716/kes1.html

http://www.halalguide.info/content/view/720/70/

http://www.pjnhk.go.id/content/view/370/32/

http: //holisohe.blogspot.com/2011/04/hakekat-pemahaman-konsep.html

http: //www.masbied.com/2013/02/12/pengertian-hasil-belajar-Matematika-

menurut-para-ahli.

http://belajarpsikologi.com/metode-permainan-dalam-pembelajaran/http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kids/anak-penderita-diskalkulia-les-pun-takmembantu.html

Killen, Roy. (1998). Effective Teaching Strategies, Second Edition. Australia: Social Science Press.

Lerner, J.W. (1965). Learning Disabilities. New Jersey: Houghton Mifflin Company.

Muchtar Abdul Karim, dkk. (2008) Pendidikan Matematika 2. Jakarta: Universitas Terbuka

Mulyono Abdurrahman. (1995). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdiknas.

Panitia Pendidikan dan Latihan Profesi Guru rayon 135, 2012. Modul Program

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, Bogor.

Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa

Purwantari Teguh, Basuki Untung, Suharyanto, Widodo (2004), Hitunganku Matematika. Jakarta : Bumi Aksara.

Ratna Wilis Dahar, (1988). Konstruktivisme dalam Mengajar dan Belajar. Teks Pidato pada pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap pada FPMIPA IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

———————,(1996). Teori-teori Belajar . Jakarta: Erlangga.

Rohmat, (2004). Belajar Matematika . Bandung: PT Sarana Pancakarya Nusa

Ruseffendi (1998), Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini, untuk Guru dan SPG, Bandung Tarsito.

Sardiman A.M, (2000). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyanto. (2008). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13.

Sukmadinata, N.S. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mengoptimalkan Peran Ekosistem Pendidikan

Hal tersebut disampaikan oleh kepala bagian umum PPPPTK TK dan PLB dalam acara pembukaan kegiatan CBT (Competence Based Training) atau

Jadi Guru di Korea? Tidak Semudah Itu Fergusso !

Jadi Guru di Korea? Tidak Semudah Itu Fergusso !

Menjadi guru pemerintah di Korea ternyata cukup sulit. Untuk menjadi guru, harus menjalani tes. Jika lulus, akan ditempatkan di sekolah

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp