Bagaimana Memulai Menulis Karya Tulis Ilmiah?

13 April 2018

Dr. Agus Irawan Sensus, M.Pd.
Contact Person: 081320629251
fb: agus irawan sensus
email: ais.asgar@yahoo.com
agusensus.tkplb@gmail.com

Nilai Karya Tulis Ilmiah dalam Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Hampir semua moment pengembangan karir pendidik tenaga kependidikan—dalam konteks ini dibatasi pada jabatan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah—pasti di dalamnya memerlukan dokumen Karya Tulis Ilmiah (KTI). Dalam konteks pegembangan keprofesian berkelanjutan, di dalamnya ada tiga komponen utama, yakni: pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovasi. Selanjutnya dalam semua moment pengembangan aktualisasi dan eksistensi pendidik dan tenaga kependidikan, sebut saja penghargaan guru, kepala sekolah dan pengawas, selalu di dalamnya mempersyaratkan untuk menyertakan karya tulis ilmiah. Begitu juga lomba kreativitas guru, sama di dalamnya harus menyertakan karya tulis ilmiah. Meskipun ragam karya tulis ilmiah dalam berbagai moment dimaksud, berbeda-beda, ada yang meminta laporan Penelitian Tindakan Kelas, Best Practies, program kerja yang melekat dengan jabatan, misalnya laporan program kerja kepala sekolah dan pengawas. Kenyataan ini adalah yang dimaksud penulis, bahwa karya tulis ilmiah bagi profesi pendidik dan tenaga kependidikan, memiliki timbangan yang sangat bernilai. Sehebat dan sekaya apapun pengalaman seorang guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dalam mengikuti moment pengembangan aktualisasi dan eksistensi, apabila tidak menyertakan Karya Tulis Ilmiah, maka yang bersangkutan tidak dapat memperoleh kesempatan untuk mengikutinya.
Memperhatikan nilai timbangan Karya Tulis Ilmiah tersebut, maka kita yang memangku jabatan profesi sebagai guru, kepala sekolah, maupun pengawas, maka harus memiliki keterampilan teknis dalam membuat karya tulis ilmiah.

Memulai Menulis Karya Tulis Ilmiah
Ketika saya memberikan pelatihan karya tulis ilmiah bagi para guru, atau membimbing mahasiswa menyusun laporan akhir kuliah—skripsi–, saya menemukan 3 permasalahan yang menghambat untuk terbiasa menulis karya tulis ilmiah dan sesungguhnya permasalahan tersebut dapat kita atasi dengan cara-cara yang sesungguhnya mudah untuk kita lakukan.
Pertama, kebingungan dari mana kita memulai untuk menulis. Setelah kita menentukan pokok permasalahan atau topik yang akan kita tulis, banyak di antara kita mengalami kebingungan dari mana kita memulai untuk menulisnya. Berbekal pengalaman penulis dalam praktik menulis karya tulis ilmiah, berikut disajikan tips untuk memulai menulis.
1. Perbanyaklah kita untuk membaca berbagai referensi, baik buku teks, hasil penelitian, makalah atau surat kabar. Yakinkan bahwa dari kegiatan membaca tersebut, akan mendatangkan banyak manfaat, diantaranya: menambah informasi, update konsep, pilihan atau ragam kosa kata dan gaya kalimat yang kesemuanya akan memberikan kesiapan akademis dan rasa percaya diri untuk memulai menulis.
Bagaimana kalau kita memiliki minat membaca yang rendah? Dan bagaimana untuk mengatasinya? Untuk hal ini, anda bisa mengkondisikan suasana membaca yang menyenangkan sesuai dengan kebiasaan individu anda dalam membaca. Kalau anda suka dengan musik, cobalah pasang headset ditelinga anda sambungkan dengan musik pilihan anda, dan mulailah anda waktu itu juga untuk memulai membaca. Tapi jika anda tidak terbiasa membaca sambil mendengarkan musik, dan anda harus dalam suasana hening untuk membaca, maka carilah tempat yang jauh dari kebisingan.
2. Tuliskan dan langsung buka laptop saat kita menemukan ide tentang topik yang akan ditulis. Ketika kita memulai menulis, tuangkan dulu apa yang kita pikirkan, jangan banyak memirkan dahulu layak tidaknya tulisan kita, pantas tidaknya tulisan kita, sehingga kondisi ini hanya akan membuat kita stagnasi menulis dan akhirnya kita tidak memulai untuk menulis. Dalam hal ini, tuliskan dulu apa yang kita pikirkan, apa yang kita alami dengan gaya bahasa kita sendiri.
3. Kalau kita sudah menganggap selesia menuangkan satu ide, topok atau sub topik dari suatu tulisan, boleh kita untuk melakukan ngedit kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Dalam tahapan ini, kita dapat mulai menggunakan kosa kata pilihan, kata sambung untuk “mempercantik” rangkaian kata menjadi kalimat dan rangkaian kalimat menjadi paragraf dan keterkaitan antar paragraf. Dalam hal ini, keunikan atau gaya bahasa anda dan gaya bahasa lokal dimana anda berada, biarlah menjadi kekhasan dari tulisan anda dan bahkan ini menjadi salah satu indikator originalitas tulisan anda.
Kedua, kesulitan memilih dan merangkai kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragraf. Terkadang rangkaian kata yang kita tuliskan belum menghasilkan kalimat yang jelas dan rangkaian kalimat yang sudah diselesaikanpun belum menghasilkan paragraf yang mampu menjelaskan apa yang kita pikirkan. Padahal kita menuliskan kalimat dan paragraf sejatinya ingin menyampaikan ide, pemikiran dan pengalaman kita dalam bahasa tertulis, kan? Untuk mengatasi kesulitan ini, berikut dijelaskan tips unuk mengatasinya:
Anda harus memiliki pilihan kata sambung yang tepat dalam penggunaannnya, berikut disajikan contoh kata sambung yang dapat membantu kita menghasilkan rangkaian kalimat dan paragraf yang jelas, yakni:
1. Kata sambung menunjukkan hubungan waktu: kemudian, setelah itu, sejak, sementara.
2. Kata sambung menunjukkan hubungan sebab akibat: dengan demikian, hasilnya.
3. Kata sambung menunjukkan hubungan tambahan: lebih dari itu, selanjutnya, sejenisnya.
4. Kata sambung menunjukkan hubungan kontras: tetapi, bertolak belakang, meskipun demikian.
Ketiga, kesulitan dalam membuat rangkaian paragraf yang sistematis dan berkesinambungan. Terkadang pesan yang terkandung antar paragraf satu dengan paragraf selanjutnya tidak menggambarkan rangkaian pesan yang sistematis dan berkesinambungan, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur atau tidak jelas. Tips untuk menghasikan rangkaian paragraf yang sistematis dan berkesinambungan, anda boleh membuat dulu peta konsep dari paragraf yang akan ditulis. Peta konsep yang dimaksud dapat dibuat dalam bentuk yang menyerupai daftar isi. Misalnya anda akan menulis artikel dengan judul “Pembelajaran Efektif bagi Anak Berkebutuhan Khusus”. Di bagian awal tulisan, anda tentunya harus memebuat latar belakang. Untuk menghasilkan latar belakang yang menjelaskan pentignya tema atau judul tentang “Pembelajaran Efektif bagi Anak Berkebutuhan Khusus” tersebut, maka anda harus membuat peta konsep tentang apa yang akan diuraikan dalam latar belakang tersebut. misalnya dalam cotoh berikut:
LATAR BELAKANG
Pokok Pikiran pertama: memaparkan kondisi ideal tentang pembelajaran yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus.
Pokok Pkiran kedua: memaparkan kondisi aktual yang menggambarkan adanya permasalahan dalam menciptakan pembelajaran efektif bagi anak berkebutuhan khusus.
Pokok Pikiran ketiga, solusi untuk menciptakan pembelajaran efektif bagi anak berkebutuhan khusus yang anda tawarkan.
Tentunya tulisan ini hanya bersifat sebagai pengantar dalam mendorong kita untuk menjadi terampil dan terbiasa dalam menulis karya tulis ilmiah. Tunggu literasi tentang kiat-kita praktis dalam menulis karya tulis ilmiah di majalah ini pada edisi berikutnya.
Jika anda ada pertanyaan sekitar karya tulis ilmiah, silahkan sampaikan kepada penulis, bisa melalui telepon, whaschap, facebook, atapun email penulis yang terera di bawah judul tulisan ini.

Sepuluh Tahun Lagi, Ribuan Guru Pendidikan Khusus Akan Berkurang

Dalam sepuluh tahun ke depan, ribuan guru pendidikan khusus akan mengalami pengurangan. Hal ini dikarenakan guru-guru tersebut memasuki purna tugas

Tidak Harus Instan Untuk Menjadi Jagoan

“Aku bukan Superman, aku bukan spiderman, aku bukan hulk,…tapi aku ada” . Begitulah sepenggal lirik dari lagu Panji Sakti yang

Child Care Policy in South Korea and Classroom Management

Hari ini, Senin 11 Maret 2019, kami mendapatkan materi: “Child Care Policy in South Korea and Classroom Management” Yang disampaikan

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp